Info Catatan Terkini Yang Selalu Update

Rabu, 07 Agustus 2019

Kisah Desa yang Kehilangan Negaranya

Jauh di pedalaman India sana tersimpan narasi yang mengiris hati. Satu desa, yang kehilangan negaranya.

Desa Turtuk namanya. Mungkin namanya kurang familiar di telinga traveler. Tidak ayal, tempatnya seakan tersembunyi di daratan tinggi Ladakh, India. Jauh dari mana-mana serta perlu perjalanan panjang untuk datang disana.



Turtuk dikatakan sebagai 'Desa yang Kehilangan Negaranya'. Turtuk adalah sisi dari India, tetapi dahulunya ialah daerah dari Pakistan.

Sejarahnya, di tahun 1971 saat peperangan di antara India serta Pakistan. India kuasai Turtuk sebab dipandang adalah daerah yang beresiko. Dipandang, tentara Pakistan dapat masuk melalui situ serta seterusnya menyerang daerah India yang lain.

Celakanya, saat itu India betul-betul mengisolasi Desa Turtuk. Penduduknya dijaga tiap hari, tidak bisa ada yang tinggalkan desa. Juga beberapa orang desa yang sedang merantau serta ingin pulang ke desanya, tidak diperbolehkan masuk

Masyarakat Desa Turtuk juga tidak dapat menantang India. Mereka kalah jumlahnya, ditambah lagi perlengkapan perang. Penduduknya cuma dapat pasrah serta merelakan kenegarannya bertukar dari masyarakat negara Pakistan jadi masyarakat negara India.

Beberapa waktu akhir-akhir ini, Turtuk jadi tujuan anti mainstream buat traveler dunia yang menyukai bertualang. Untuk ke arah Turtuk perlu perjuangan yang tidak gampang.

Hanya satu jalan keluar-masuk kesana ialah lewat Kota Leh. Jaraknya 250 km, meliak-liuk di pegunungan serta medan yang berat.

Asal tahu saja, Desa Turtuk ada di Lembah Nubra serta dikelilingi Sungai Shyok. Lembah itu masuk dalam lokasi Ladakh di Negara Sisi Jammu serta Kashmir, India sisi utara.

Desa Turtuk ada pada ketinggian 2.900 mdpl. Jika musim panas, dapat sangat terasa panas. Oleh karenanya, penduduknya mempunyai budaya unik dengan menumpuk bebatuan dalam jumlahnya besar seperti seperti bunker.

Tumpukan bebatuan akan membuat udara jadi dingin. Lalu di situlah, beberapa bahan makanan seperti daging serta yang lain disimpan supaya bisa awet. Satu skema pendinginan alami yang menarik, yang mereka ucap 'Nangchung' alias Rumah Dingin.

Lebih menariknya , Masyarakat Desa Turtuk berpedoman agama Islam. Jangan bingung, banyak wanitanya yang kenakan jilbab serta ada masjid.

Mereka disebutkan Muslim Noorbakshia, yang bahasanya Balti (satu bahasa Tibet dengan dialek terkuno). Untungnya saat pemerintah India menempati desa itu di jaman dahulu, tidak ada desakan geser agama atau yang lain. Masyarakat Desa Turtuk masih dibiarkan dengan agama yang dianutnya.

Masyarakat Desa Turtuk hidup lewat cara berladang. Tanahnya yang subur, membuat mereka gampang untuk menanam beberapa tumbuhan serta memperoleh bahan makanan. Ada kenari, gandum, buah aprikot serta masih banyak. Mereka berternak sapi, jadi sumber makanan daging.

Tahun 2010, Desa Turtuk telah terbuka untuk wisata. Walau yang hadir sedikit, tapi mereka suka saat ada wisatawan yang hadir serta akan memperkenalkan kehidupan mereka.

Desa Turtuk hidup dengan damai, penduduknya sama-sama bahu-membahu. Mereka juga telah lama mengikhlaskan untuk geser kewarganegaraan jadi orang India.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog